
Di ujung utara Nusantara, semangat belajar terus tumbuh di tengah berbagai keterbatasan. Wilayah muda ini kini mulai menunjukkan geliat pendidikan berbasis pesantren, meski skala dan fasilitasnya belum sebanding dengan daerah lain di Indonesia. Namun, dari ruang-ruang kecil pesantren di Tarakan dan sekitarnya, muncul tekad kuat untuk menghadirkan perubahan, terutama bagi para santri perempuan.
Rahmadina, S.Pd., M.Pd., Ketua Fatayat NU Kota Tarakan, menuturkan bahwa pesantren di daerah perbatasan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Akses pendidikan yang masih terbatas, minimnya tenaga pendidik perempuan, dan kondisi ekonomi masyarakat menjadi hambatan nyata bagi kemajuan pesantren. “Banyak santri perempuan harus menempuh jarak jauh untuk belajar, sementara kesempatan mereka untuk mengembangkan diri masih terbatas,” ujarnya.
Selain infrastruktur, tantangan lain muncul dari budaya dan pemahaman terhadap kesetaraan gender. Rahmadina menjelaskan bahwa isu gender masih dianggap tabu di sebagian pesantren. “Pembicaraan soal gender sering kali dianggap sensitif. Bahkan, pernikahan usia muda masih dianggap hal yang wajar,” tuturnya.
Namun, di tengah situasi tersebut, perubahan mulai terasa. Fatayat NU aktif menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan agar santri perempuan memiliki ruang belajar dan keberanian untuk berbicara tentang peran mereka di masyarakat. Menurut Rahmadina, tantangan kesetaraan tidak hanya menyangkut budaya, tetapi juga ekonomi. Banyak keluarga di daerah perbatasan masih memprioritaskan pendidikan anak laki-laki, sementara pendidikan perempuan sering kali dinomorduakan.
Meski demikian, optimisme tumbuh seiring munculnya inisiatif kemandirian di sejumlah pesantren. Beberapa di antaranya mulai mengembangkan usaha kecil sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi. “Ada pesantren yang memproduksi kuliner lokal, ada juga yang mulai mengajarkan wirausaha kepada para santri perempuan. Harapannya, pesantren bisa mandiri dan santri perempuan memiliki bekal ekonomi,” ungkap Rahmadina.
Dalam era digital yang kian cepat, Rahmadina juga menyoroti tantangan baru bagi dunia pesantren. “Santri sekarang tidak bisa lepas dari dunia digital, tetapi mereka tetap perlu bimbingan agar tidak kehilangan nilai-nilai keislaman,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya peran ustadzah dan orang tua dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pendidikan karakter.
Rahmadina percaya bahwa perempuan pesantren perlu diberi ruang untuk memimpin, dimulai dari lingkup terkecil. “Kepemimpinan bisa tumbuh dari forum santri, kegiatan sosial, atau program komunitas. Keberanian itu harus dilatih dan didukung,” katanya.
Ia menutup dengan harapan sederhana namun penuh makna: agar dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang, perempuan pesantren di Kalimantan Utara tumbuh menjadi sosok yang mandiri — secara ekonomi, intelektual, dan sosial. Dari pesantren-pesantren di perbatasan, suara perempuan Kalimantan Utara kini mulai menggaung, membawa pesan kuat bahwa perubahan besar selalu berawal dari perempuan yang berani bermimpi dan terus belajar.