
Sebagai bagian dari komitmennya untuk memperkuat peran perempuan pesantren dalam pendidikan dan kepemimpinan, Yayasan Srimanganti Nusantara melakukan silaturahmi dan sowan ke Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Husna Bukit Rajawali. Kunjungan ini menjadi ruang refleksi dan diskusi mendalam tentang peran strategis perempuan dalam menggerakkan pendidikan berbasis pesantren, sekaligus mempererat hubungan antara sesama penggerak pendidikan Islam di akar rumput.
Dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban, tim Srimanganti Nusantara disambut langsung oleh Bu Nyai, pengasuh pondok pesantren bersama jajaran santri dan ustazah. Percakapan berkembang menjadi diskusi bermakna tentang bagaimana pesantren tidak hanya menjadi ruang pendidikan agama, tetapi juga pusat pemberdayaan perempuan yang memiliki daya ubah besar bagi masyarakat sekitar.
Bu Nyai menekankan bahwa perempuan pesantren memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar dalam mencetak generasi Qur’ani. Namun, tanggung jawab itu harus berangkat dari kapasitas yang kuat.
“Sebelum mendidik, perempuan harus terdidik,” tegas Bu Nyai, menandaskan pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai bekal utama dalam membangun generasi yang beriman, cerdas, dan berkarakter.
Menariknya, sistem pendidikan di Ponpes Tahfidzul Qur’an Al Husna Bukit Rajawali menunjukkan model pembagian peran yang setara dan saling melengkapi antara pengasuh laki-laki dan perempuan. Bu Nyai berfokus pada program tahfidz Al-Qur’an — membimbing para santri perempuan untuk menghafal dan memahami makna Al-Qur’an dengan penuh kedalaman spiritual. Sementara itu, Kiai memusatkan pengajaran pada kajian kitab kuning, membangun pondasi keilmuan yang kokoh melalui tradisi intelektual pesantren.
Model kolaborasi seperti ini mencerminkan praktik kesetaraan gender yang tumbuh dari tradisi pesantren itu sendiri — sebuah relasi yang tidak bersifat hierarkis, tetapi harmonis dan saling menguatkan. Pesantren menjadi bukti nyata bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, melainkan mitra strategis dalam pendidikan dan dakwah Islam.
Bagi Srimanganti Nusantara, pengalaman lapangan seperti ini sangat penting untuk memahami dinamika dan realitas peran perempuan pesantren di berbagai daerah. Silaturahmi ke pesantren menjadi bagian dari rangkaian kerja yayasan untuk membangun jejaring pengetahuan dan advokasi berbasis pengalaman para Bu Nyai dan santri perempuan.
Melalui kunjungan ini, Srimanganti Nusantara berharap dapat memperluas kerja kolaboratif dalam bidang pendidikan, riset, dan pemberdayaan, terutama dalam memperkuat kapasitas perempuan pesantren sebagai pendidik, pemimpin, sekaligus agen perubahan sosial.
Srimanganti Nusantara percaya bahwa kemajuan bangsa berawal dari ruang-ruang pendidikan yang berkeadilan, dan pesantren—dengan nilai keikhlasan serta kearifan lokalnya—adalah fondasi utama dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Silaturahmi ini bukan sekadar pertemuan, tetapi langkah nyata dalam menghidupkan kembali spirit keilmuan dan kepemimpinan perempuan di pesantren untuk Indonesia yang lebih berdaya dan berkeadaban.
