
Depok, 2025 — Yayasan Srimanganti Nusantara menjalin kemitraan strategis dengan Rahima, lembaga yang selama ini dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam berkeadilan gender, dalam upaya memperkuat kapasitas ulama perempuan muda serta menciptakan ekosistem pesantren yang inklusif, aman, dan berpihak pada perempuan serta anak.
Kolaborasi ini berangkat dari semangat bersama untuk menghadirkan perubahan sistemik di dunia pesantren, melalui pendekatan riset, pendidikan, dan pelatihan yang berorientasi pada nilai keadilan gender dan kemanusiaan. Sinergi ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan kelembagaan pesantren yang adaptif terhadap isu-isu kontemporer serta responsif terhadap kebutuhan perempuan di lingkungan pendidikan Islam.
Latar Belakang Kolaborasi: Tantangan dan Peluang di Dunia Pesantren
Dalam lima tahun terakhir, data menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pesantren di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan kualitas, khususnya dalam aspek tenaga pendidik, kurikulum yang adaptif, serta perlindungan terhadap santri.
Pesantren perempuan pun tumbuh dan aktif, tetapi masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pelatihan riset, advokasi kebijakan, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) perempuan pesantren. Di sisi lain, laporan dari KPAI dan sejumlah media nasional pada 2024–2025 mengungkap adanya peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dan pesantren, menandakan pentingnya pendekatan baru yang mengedepankan edukasi, sosialisasi, serta kebijakan pesantren yang responsif gender.
Melihat situasi tersebut, Srimanganti Nusantara dan Rahima menyadari perlunya langkah bersama untuk mendorong transformasi di tingkat akar rumput, melalui penguatan kapasitas ulama perempuan muda yang memiliki kemampuan tafsir keagamaan berkeadilan dan kepemimpinan sosial yang transformatif.
Profil dan Peran Srimanganti Nusantara
Sebagai lembaga yang berakar dari gerakan aktivis muda Nahdlatul Ulama berperspektif gender, Srimanganti Nusantara memiliki keunggulan dalam jaringan dan pengorganisasian di 38 provinsi di Indonesia.
Srimanganti fokus pada penguatan kapasitas pemuda pesantren, riset sosial keagamaan, serta produksi pengetahuan digital melalui media pembelajaran yang mudah diakses publik. Dengan basis digital yang kuat dan jejaring kebijakan publik yang luas, Srimanganti menjadi ruang belajar dan kolaborasi lintas generasi bagi perempuan pesantren untuk mengasah kemampuan riset, kepemimpinan, serta advokasi sosial.
Tujuan utama Srimanganti adalah melahirkan kader-kader ulama perempuan dari lingkungan pesantren dan komunitas Islam yang memiliki wawasan keagamaan berkeadilan, serta mampu menjadi agen perubahan sosial di komunitasnya masing-masing.

Peran dan Kontribusi Rahima
Rahima telah lama dikenal sebagai salah satu lembaga pionir dalam pengembangan pendidikan Islam berkeadilan gender di Indonesia. Melalui program Pengaderan Ulama Perempuan (PUP), Rahima melatih ratusan nyai, ustazah, dan aktivis perempuan dengan materi seperti Fiqh Perempuan, Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM), serta konsep Pesantren Ramah Perempuan dan Anak.
Selain itu, Rahima aktif dalam jejaring KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) dan berbagai forum nasional maupun internasional yang membahas hak-hak perempuan dalam Islam. Kegiatan pendidikan publik, advokasi sosial, serta penerbitan buku dan modul keislaman progresif menjadi bagian dari upayanya dalam memperluas literasi keagamaan berperspektif gender di masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan Srimanganti Nusantara, Rahima berperan sebagai mitra pendamping keilmuan dan kurator konten substantif, memastikan bahwa setiap program kolaboratif memiliki pijakan teologis dan metodologis yang kuat sesuai dengan nilai-nilai keulamaan perempuan.
Empat Program Kolaborasi Strategis Srimanganti–Rahima
Dari hasil audiensi dan kesepahaman antara kedua lembaga, disepakati empat program kolaboratif utama yang akan dijalankan dalam waktu dekat:
Menuju Ekosistem Pesantren yang Berkeadilan dan Inklusif
Kolaborasi Srimanganti Nusantara dan Rahima menjadi langkah penting dalam memperkuat agenda pesantren ramah perempuan dan anak. Inisiatif ini tidak hanya memperluas jangkauan pendidikan Islam progresif, tetapi juga meneguhkan peran perempuan pesantren sebagai penggerak perubahan sosial dan moral di tengah masyarakat.
Dengan sinergi riset, pelatihan, dan advokasi yang dilakukan secara berkelanjutan, kedua lembaga ini berkomitmen melahirkan generasi ulama perempuan muda yang berpengetahuan luas, berjiwa kepemimpinan sosial, dan berdaya dalam mengartikulasikan Islam yang adil bagi semua.