
Srimanganti Nusantara Chapter Riau menggelar diskusi bertajuk “Peran Perempuan dalam Rekonstruksi Kepercayaan Publik di Tengah Kontroversi Dunia Pesantren di Riau” bersama narasumber Dr. Mustiqowati Ummul Fitriyyah, M.Si, seorang akademisi dan pemerhati isu pendidikan Islam.
Diskusi ini berfokus pada pertanyaan strategis: bagaimana perempuan dapat berperan aktif dalam membangun kembali kepercayaan publik terhadap pesantren, khususnya di tengah tantangan dan sorotan yang muncul terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut.
Dalam pemaparannya, Dr. Mustiqowati menegaskan bahwa tata kelola pesantren yang berbasis nilai menjadi fondasi utama untuk menjaga kepercayaan publik. Menurutnya, pesantren harus memperkuat akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaannya. Ia juga menekankan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam menghadirkan tata kelola yang lebih etis, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, sehingga legitimasi publik dapat dibangun tidak hanya melalui otoritas tradisional, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan.
Lebih lanjut, diskusi ini juga menyoroti pentingnya membangun kembali kepercayaan publik melalui perbaikan manajemen kelembagaan dan penguatan fungsi sosial pesantren. Pesantren, kata Dr. Mustiqowati, seharusnya tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga motor sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Ia mendorong munculnya model baru pesantren yang menggabungkan ilmu agama, ilmu sosial, dan kebutuhan zaman modern.
Dalam sesi lain, Dr. Mustiqowati menekankan bahwa perempuan pesantren berperan sebagai agen perubahan. Mereka memiliki potensi besar untuk menghadirkan kontra-narasi terhadap stigma negatif yang berkembang, sekaligus mempromosikan wajah Islam yang ramah dan progresif. Beberapa contoh lulusan perempuan pesantren yang kini berkiprah di posisi strategis disebut sebagai bukti nyata bahwa perempuan mampu membawa transformasi positif bagi lembaga dan masyarakat.
Pesantren juga didorong untuk membangun citra yang inklusif dan harmonis, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Komunikasi publik menjadi kunci dalam upaya menampilkan pesantren sebagai lembaga yang terbuka, adaptif, dan berkemajuan. Srimanganti Nusantara menegaskan bahwa pesantren masa depan harus menjadi ruang tumbuhnya nilai, ilmu, dan solidaritas kemanusiaan.
Diskusi ditutup dengan refleksi bersama bahwa pemberdayaan perempuan merupakan kunci reformasi tata kelola pesantren. Dengan keterlibatan aktif perempuan, pesantren diyakini dapat menghadirkan sistem yang lebih transparan, memperkuat kepercayaan publik, dan mewujudkan wajah Islam yang inklusif dan berkeadilan.
“Pesantren yang kuat tidak hanya diukur dari kedalaman ilmu agamanya, tetapi juga dari kemampuannya merangkul nilai-nilai kemanusiaan, keadilan gender, dan kepercayaan publik,” tutup Dr. Mustiqowati dalam sesi akhir diskusi.