Tawasul dan tahlil menjadi pembuka kegiatan Diskusi Gerakan Yayasan Srimanganti Nusantara yang berkolaborasi dengan PC IPNU–IPPNU Kota Depok. Kegiatan yang mengangkat tema “Lompatan Generasi Muda NU Mengawal Nilai Islam Tradisionalisme dalam Arus Modernisme” ini dilaksanakan pada Kamis, 4 Desember 2025, setelah salat Isya, bertempat di Rumah Gerakan Yayasan Srimanganti Nusantara, Sawangan, Depok.

Diskusi dihadiri oleh Ketua Yayasan Srimanganti Nusantara, Nurfauzy Abdillah; Aprianti Marwah selaku pemantik diskusi sekaligus Tenaga Ahli Bawaslu RI; serta Ketua PC IPPNU Depok, Selvi Febrianti.

Sebagai pemantik, Aprianti Marwah menekankan pentingnya merawat tradisi, khususnya tradisi keislaman ala Nahdlatul Ulama seperti tahlilan. Menurutnya, tradisi-tradisi tersebut merupakan penyangga kewarasan dan kesadaran di tengah era modern yang penuh ketidakpastian. Ia juga menyoroti pentingnya budaya diskusi bagi para pemuda NU sebagai sarana membaca konteks zaman dan mengasah daya kritis. Aprianti turut menyinggung isu patriarki yang masih mengakar di lembaga pendidikan termasuk pesantren, serta menegaskan keselarasan nilai antara Yayasan Srimanganti (3P: pendidikan, perempuan, pesantren) dan IPNU–IPPNU (3B: belajar, berjuang, bertaqwa).

Ketua PC IPPNU Depok, Selvi Febrianti, menguatkan pandangan tersebut. Ia menyebut pendidikan sebagai fokus utama perjuangan organisasi. Selvi menyoroti tingginya angka pelajar putus sekolah di Depok, sebuah ironi mengingat kota tersebut baru meraih predikat Kota Ramah Anak. Ia membandingkan kondisi ini dengan sejumlah daerah lain di Jawa Barat dan Jakarta yang menyediakan beasiswa daerah hingga tingkat perguruan tinggi. Selvi juga mengungkap keresahan terkait generasi muda yang lebih gemar bermain gim dibanding aktif berorganisasi. Namun, menurutnya, perubahan karakter generasi tidak bisa dihindari—justru aktivis muda NU harus mampu menyesuaikan strategi dakwah dengan pola komunikasi generasi saat ini.

Sekretaris PC IPNU Depok, Fikri, memperkuat argumen Selvi dengan menyoroti kecenderungan individualisme generasi muda yang membuat mereka sulit diajak berorganisasi. Kondisi ini menuntut organisasi untuk beradaptasi dengan era digital, di mana interaksi sosial banyak dimediasi oleh gawai. Ia juga menyampaikan keresahan atas citra buruk pesantren yang muncul akibat berbagai kasus di era digital, padahal pesantren merupakan benteng tradisi dan nilai Islam tradisional.

Daffa, salah satu kader IPNU Depok, menambahkan pentingnya literasi digital sebagai kemampuan dasar bagi kader dan santri. Selain untuk memfilter informasi, literasi digital diperlukan agar generasi muda NU mampu membangun narasi yang bijak dan bertanggung jawab di ruang digital.

Menutup diskusi, Ketua Yayasan Srimanganti Nusantara, Nurfauzy Abdillah, mengajak IPNU–IPPNU Depok memperkuat kolaborasi terutama dalam isu seputar pesantren. Ia menegaskan bahwa melek digital bagi santri kini menjadi urgensi. Bukan hanya agar santri tidak hanyut dalam arus informasi, tetapi agar mereka mampu menggunakan media secara kritis—bukan sekadar menjadi konsumen, melainkan produsen narasi yang mencerahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dukung Kami dengan Donasi

Kami mengajak Anda untuk ikut serta dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pemberdayaan di Yayasan Srimanganti Nusantara.

Bantuan Anda sangat berarti bagi keberlangsungan program-program kami.

Rekening Donasi:

Bank: BRI
a.n: Putra Srimanganti Nusantara
180201000588566

Bukti Transfer :

Terima kasih atas donasi yang telah Anda berikan. Dukungan Anda sangat berarti bagi kelangsungan program kami di Yayasan Srimanganti Nusantara.