Oleh : Megatriani

Di sebuah rumah sederhana di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, suara lantunan ayat suci sering terdengar setiap subuh. Rumah itu berdiri di samping Masjid Jami’ Tua Sengkang masjid yang telah menjadi saksi panjang perjalanan ilmu dan pengabdian. Dari rumah itulah, pada 31 Desember 1947, lahir seorang perempuan yang kelak dikenal luas sebagai Gurutta Hj. St. Aminah Adnan, M.Ag., salah satu ulama perempuan paling berpengaruh dari timur Indonesia.

Ia tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi ilmu dan ketulusan. Ayahnya, H. Adnan Saleh, dikenal sebagai sosok religius yang sabar dan disiplin, sementara ibunya, Hj. Maccayya Badar, adalah perempuan lembut yang meyakini bahwa ilmu adalah jalan tertinggi untuk mengabdi kepada Tuhan. Dalam keluarga itu, suara mengaji adalah bahasa cinta, dan semangat belajar adalah napas kehidupan.

Namun di luar dinding rumahnya, dunia belum berpihak pada perempuan. Di masyarakat Bugis kala itu, masih terdengar pepatah yang mengekang: “Sepintar-pintarnya perempuan, akhirnya ke dapur juga.” Kalimat itu seperti pagar tak kasatmata yang menghalangi langkah banyak perempuan untuk menempuh pendidikan tinggi. Tapi bagi Aminah muda, kata-kata itu justru menjadi tantangan.

Langkah Pertama: Menolak Takdir yang Dibatasi

Sejak kecil, Aminah sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. Ia rajin membantu di rumah, tapi selalu mencari waktu untuk membuka kitab atau membaca buku. Ibunya sering memergokinya belajar hingga larut malam, lalu menasihatinya dengan lembut,

“Tidak perlu melakukan pekerjaan lain, asal cukup belajar setinggi-tingginya.”

Kalimat itu sederhana, tapi menjadi pondasi hidupnya. Di usia muda, ia memilih jalan yang jarang diambil perempuan sezamannya yaitu, belajar agama di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Pesantren ini adalah pusat pendidikan Islam terbesar di Timur Indonesia, tempat para santri dari berbagai daerah datang menuntut ilmu.

Di As’adiyah, Aminah muda dikenal pendiam, tekun, dan cepat memahami pelajaran. Ia mempelajari ilmu tafsir, hadis, dan tasawuf. Salah satu kitab favoritnya adalah Tanwirul Qulub, yang kelak sering ia ajarkan kepada murid-muridnya. Di kitab itu tertulis pesan tentang penyucian hati dan keseimbangan antara ilmu dan amal nilai yang kemudian menjadi ciri hidupnya.

Jalan Ilmu yang Tak Pernah Pendek

Tahun 1966 menjadi awal perjalanan panjangnya menempuh pendidikan tinggi. Ia melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi Islam As’adiyah (PTIA) jurusan Ushuluddin, lalu ke IAIN Alauddin Makassar. Setiap pekan, ia menempuh perjalanan berjam-jam dari Sengkang ke Makassar. Jalanan belum sebaik sekarang, tapi semangatnya tak pernah surut.

Di bus atau perahu, ia selalu membawa kitab di pangkuan. Beberapa kali, penumpang lain bertanya heran, “Untuk apa perempuan muda membaca kitab setebal itu?” Aminah hanya tersenyum. Ia tahu, menjawab dengan kata-kata tidak akan mengubah apa-apa. Yang bisa menjawab hanyalah bukti, dan ia membuktikannya lewat tekad.

Guru, Ibu, dan Pemimpin di As’adiyah

Tahun 1972, Gurutta Aminah mulai mengabdi sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah Putri As’adiyah. Tak lama kemudian, ia dipercaya menjadi kepala madrasah. Jabatan itu dipegangnya hingga 2007, lebih dari tiga puluh tahun mengabdi tanpa lelah.

Di ruang kelas sederhana, ia mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengajarkan kehidupan. Ia mendidik dengan ketegasan seorang guru dan kelembutan seorang ibu. Para santri sering bercerita: suara beliau lembut, tetapi setiap kata terasa menancap di hati. Ketika ada santri yang ingin berhenti sekolah karena alasan ekonomi, Gurutta Aminah tak segan membantu, kadang dari uang pribadinya.

“Ilmu itu tidak memilih siapa yang pantas,” katanya suatu kali, “kitalah yang harus pantas memperjuangkannya.”

Gelarnya sebagai “Gurutta”, sebutan Bugis untuk ulama berilmu tinggi, bukan sekadar penghormatan, tapi pengakuan atas ketulusan dan kedalaman ilmunya. Ia menjadi salah satu dari sedikit perempuan yang menyandang gelar itu di dunia pesantren Sulawesi.

Guru dari Para Guru

Di antara ribuan santri yang pernah belajar di bawah bimbingannya, salah satunya adalah Anregurutta Prof. Dr. Nasaruddin Umar, yang kini menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri Agama RI.

Saat masih remaja, Prof. Nasaruddin belajar di As’adiyah, menempuh pendidikan PG 4 tahun (setara MTs) dan PG 6 tahun (setara MA), di mana Gurutta Aminah menjadi salah satu gurunya. Ia kemudian mengenang gurunya itu sebagai sosok yang disiplin, sabar, dan penuh kasih.

“Para guru perempuan seperti Gurutta Aminah tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi mengajarkan makna sabar dan cinta,” ungkapnya dalam satu wawancara. Bagi Prof. Nasaruddin, Gurutta Aminah adalah cermin dari guru sejati, yang mendidik bukan hanya pikiran, tapi juga hati.

Dakwah yang Menyentuh Umat

Selain di pesantren, Gurutta Aminah dikenal sebagai pendakwah yang berkeliling di banyak daerah. Setiap bulan Ramadan, ia memenuhi undangan dari Sulawesi Tenggara, Kalimantan, hingga Sumatera. Kadang ia mendampingi Anregurutta KH. Yunus Maratan, dan tak jarang menggantikan beliau berceramah di hadapan jamaah yang besar.

Ceramahnya tidak menggurui. Ia berbicara dengan hati. Tentang perempuan yang harus berani berpikir, tentang keluarga yang harus dibangun dengan kasih, dan tentang iman yang harus melahirkan keadilan. Bagi beliau, perempuan bukan sekadar pelengkap dakwah — mereka adalah penjaga nilai dan penuntun generasi.

Penghargaan dan Pengakuan

Setelah puluhan tahun mengabdikan diri, nama Gurutta Aminah kini diakui di tingkat nasional. Pada Malam Puncak Hari Guru Nasional 2024 (29 November 2024), Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI menganugerahinya Lifetime Achievement Award. Dalam penghargaan itu tertulis, “Gurutta Aminah adalah bukti nyata bahwa seorang guru memiliki peran penting dalam melahirkan generasi penerus yang berintegritas.”

Malam itu, di hadapan ribuan pendidik dari seluruh Indonesia, Gurutta Aminah berdiri dengan kerudung hijaunya yang khas, menatap Menteri Agama yang dulu pernah menjadi muridnya. Pemandangan itu menjadi simbol indah perjalanan seorang guru, dari kelas kecil di Sengkang hingga panggung nasional.

Pemikiran dan Warisan

Meski usia terus bertambah, Gurutta Aminah tidak berhenti menulis dan berpikir. Tahun 2023, ia menerbitkan buku “Perkembangan Pemikiran Ekonomi Islam”, karya yang menunjukkan kedalaman pandangannya tentang keadilan sosial dalam ajaran Islam. Ia sering menasihati para santri dan pendidik muda, “Beribadahlah dengan cerdas, berjuanglah dengan ikhlas.”

Bagi Gurutta Aminah, ilmu adalah bentuk ibadah, dan mengajar adalah jihad yang senyap, dilakukan setiap hari tanpa tepuk tangan, tapi dengan keyakinan bahwa dari tangan-tangan guru, peradaban dibangun.

Penutup: Perempuan yang Menjadi Cahaya

Kini, di usia senjanya, Gurutta Hj. St. Aminah Adnan tetap mengajar, tetap berceramah, tetap menjadi sumber keteduhan bagi banyak orang. Ia telah melahirkan ribuan murid, puluhan ulama, dan satu menteri. Tapi bagi beliau, penghargaan terbesar bukanlah piagam atau panggung, melainkan ketika murid-muridnya hidup dengan nilai yang ia ajarkan.

Di langit Sengkang yang senja, cahaya sore menembus jendela rumahnya. Gurutta Aminah tersenyum ketika beberapa santri datang mencium tangannya. “Teruslah belajar,” katanya lirih, “karena ilmu adalah jalan pulang menuju Tuhan.”Dan di situlah, cahaya dari Timur itu tetap menyala lembut, tapi tak pernah padam.

Penulis :

Megatriani lahir di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada 15 November 1998. Alumni UIN Alauddin Makassar ini aktif di organisasi kemahasiswaan, khususnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Perjalanan organisasinya dimulai dari lembaga kaderisasi PMII dan hingga kini masih berproses serta aktif di tingkat pusat. Selain itu, juga terlibat di Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama dan menjadi bagian dari Yayasan Srimanganti Nusantara yang berfokus pada isu anak, perempuan, dan pesantren. Saat ini tengah menempuh pendidikan S2 di Universitas Indonesia, Program Kajian Gender di Sekolah Kajian Strategi dan Global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dukung Kami dengan Donasi

Kami mengajak Anda untuk ikut serta dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pemberdayaan di Yayasan Srimanganti Nusantara.

Bantuan Anda sangat berarti bagi keberlangsungan program-program kami.

Rekening Donasi:

Bank: BRI
a.n: Putra Srimanganti Nusantara
180201000588566

Bukti Transfer :

Terima kasih atas donasi yang telah Anda berikan. Dukungan Anda sangat berarti bagi kelangsungan program kami di Yayasan Srimanganti Nusantara.