Jakarta — Isu pemberdayaan perempuan di dunia pesantren kembali menjadi sorotan melalui diskusi bertajuk “Debat Pemberdayaan Perempuan di Pesantren: Dua Perspektif Kunci”. Forum ini mempertemukan dua tokoh perempuan dengan latar belakang berbeda: Aquarina Kharisma Sari, budayawan dan anggota Lesbumi NU, serta Mike Virewati, aktivis dari Koalisi Perempuan Indonesia.

Keduanya menyajikan dua pendekatan yang kontras dalam melihat posisi dan peran perempuan di pesantren — antara menggali kekuatan yang sudah ada dalam tradisi dan melawan struktur patriarki yang membatasi ruang gerak perempuan.

Ibuisme: Arketipe Kekuatan atau Alat Domestikasi?

Perdebatan dimulai dari upaya mendefinisikan ulang konsep “Ibuisme”.
Bagi Aquarina Kharisma Sari, Ibuisme bukanlah simbol pengekangan, melainkan arketipe kekuatan spiritual dan sosial yang melekat dalam budaya Indonesia. Ia menilai, figur “ibu” di pesantren — seperti Ibu Nyai atau tokoh seperti Khofifah Indar Parawansa — adalah manifestasi dari kepemimpinan yang dihormati dan diterima luas.

Sebaliknya, Mike Virewati memandang Ibuisme sebagai ideologi domestikasi yang justru membatasi perempuan dalam peran keibuan dan pengasuhan. Menurutnya, pandangan ini menempatkan perempuan pada standar ganda dan menghalangi mereka untuk diakui dalam ranah kepemimpinan publik.

Dua Jalan Pemberdayaan

Aquarina menegaskan bahwa kekuatan perempuan sudah melekat dalam budaya pesantren. Ia menolak penggunaan lensa feminisme Barat yang dianggap tidak memahami konteks lokal dan justru mengerdilkan peran perempuan tradisional. “Rumah bukan penjara, melainkan pusat kehidupan,” tegasnya. Ia juga mencontohkan tokoh-tokoh sejarah seperti Nyi Ageng Serang dan Nyi Ageng Tegalrejo sebagai bukti kuatnya peran perempuan dalam sejarah Nusantara.

Sebaliknya, Mike menekankan pentingnya perjuangan aktif melawan struktur patriarki. Ia menyoroti fenomena double burden — di mana pemimpin perempuan tetap diukur berdasarkan peran domestiknya. “Perempuan harus merebut ruang,” ujarnya, seraya mencontohkan gerakan Gerwani yang menjadikan isu rumah tangga sebagai pintu masuk perjuangan politik dan sosial.

Titik Temu di Tengah Perbedaan

Meski berbeda tajam, keduanya sepakat bahwa pemberdayaan perempuan bukanlah perang gender. Baik Aquarina maupun Mike menilai kolaborasi antara laki-laki dan perempuan sangat penting untuk mencapai keadilan. Mereka juga sama-sama mengakui bahwa perempuan memiliki daya besar untuk memimpin dan membawa perubahan sosial.

Namun, perbedaan mendasar tetap tampak pada sumber kekuatan yang diyakini. Bagi Aquarina, kekuatan perempuan bersifat inherent dalam tradisi dan spiritualitas. Sementara bagi Mike, kekuatan itu harus diperjuangkan melalui pembongkaran sistem patriarki yang mengekang.

Refleksi untuk Dunia Pesantren

Diskusi ini membuka ruang refleksi baru bagi kalangan pesantren dan akademisi. Apakah pemberdayaan perempuan lebih efektif dilakukan dengan memperkuat nilai-nilai tradisi dari dalam, atau dengan menantang struktur yang membatasinya dari luar?

Kedua pendekatan tersebut sama-sama menawarkan visi yang berharga — satu mengakar pada budaya dan spiritualitas, satu lagi berorientasi pada transformasi sosial yang kritis. Dalam konteks pesantren, pertemuan dua perspektif ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak dapat disederhanakan, melainkan harus terus dikaji dengan kedalaman dan keterbukaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dukung Kami dengan Donasi

Kami mengajak Anda untuk ikut serta dalam mendukung kegiatan pendidikan dan pemberdayaan di Yayasan Srimanganti Nusantara.

Bantuan Anda sangat berarti bagi keberlangsungan program-program kami.

Rekening Donasi:

Bank: BRI
a.n: Putra Srimanganti Nusantara
180201000588566

Bukti Transfer :

Terima kasih atas donasi yang telah Anda berikan. Dukungan Anda sangat berarti bagi kelangsungan program kami di Yayasan Srimanganti Nusantara.