oleh : Inda Hudiria

Ada cahaya lembut yang memancar dari ruang-ruang pesantren di Bekasi. Cahaya itu tidak berasal dari gemerlap lampu, melainkan dari wajah seorang perempuan yang menebarkan kasih dan ilmu dengan keteduhan. Dialah Nyai Hj. Badriyah Fayumi, seorang ulama perempuan Nahdlatul Ulama yang menjadikan pesantren sebagai taman ilmu dan rahmah bagi kehidupan.
Lahir di Jakarta pada 5 Oktober 1971, Badriyah Fayumi tumbuh di keluarga yang menanamkan cinta pada ilmu dan akhlak. Sejak kecil, ia telah terbiasa duduk di majelis taklim, menyalin catatan dari pengajian, dan membaca kitab dengan penuh rasa ingin tahu. Kecerdasannya berpadu dengan ketekunan, membuatnya haus akan pengetahuan yang lebih luas. Dari ruang kecil di rumahnya, ia menatap dunia dengan keyakinan bahwa ilmu adalah jalan untuk memahami cinta Tuhan.
Langkahnya kemudian menyeberang jauh ke jantung dunia Islam, ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Di Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah dan Filsafat, ia mempelajari pemikiran Islam klasik dan modern. Di kota itu, di bawah langit Mesir yang dipenuhi sejarah para ulama, ia belajar bahwa agama tidak boleh berhenti pada hukum dan batas, melainkan harus mengalir sebagai rahmah yang menghidupkan. Dari para gurunya, ia memahami bahwa Islam sejati adalah yang memuliakan manusia. Dari Kairo pula ia belajar bahwa perempuan memiliki hak penuh untuk menuntut ilmu, mengajarkan kebaikan, dan menjadi ulama. “Ilmu adalah hak setiap manusia,” ujarnya dalam satu kesempatan, “dan perempuan berhak menjadi penjaga ilmu sebagaimana laki-laki”.
Sekembalinya ke tanah air, ia tidak memilih jalan yang mudah. Bukan ruang akademik yang ia tuju, melainkan ruang pengabdian yang sesungguhnya: pesantren. Ia mendirikan Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits di Bekasi, Jawa Barat, sebuah lembaga yang tidak hanya mengajarkan ayat dan hadis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran sosial dan kasih terhadap sesama. Di pesantrennya, para santri diajak untuk berpikir, berdialog, dan memahami agama secara utuh. Ia menolak pandangan bahwa belajar agama berarti menghafal tanpa makna. Bagi Nyai Badriyah, pesantren harus menjadi ruang yang menenangkan, bukan menakutkan; tempat tumbuhnya keberanian berpikir dan keikhlasan berbuat.
Di Mahasina, suasana itu benar-benar hidup. Santri laki-laki dan perempuan belajar bersama dalam semangat kesetaraan, berbagi pengetahuan tanpa sekat. Nyai Badriyah mengajarkan tafsir dengan cara yang hidup, yaitu menghubungkan ayat dengan kehidupan dan teks dengan realitas. Di sela-sela pengajian, ia sering mengingatkan santrinya bahwa tugas belajar bukan hanya mencari tahu apa yang benar, tetapi juga mengamalkan kebaikan dengan kasih sayang.
Sebagai kader Nahdlatul Ulama, kiprah Nyai Badriyah melampaui dinding pesantren. Ia aktif di Muslimat NU, menjabat sebagai Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI Pusat, dan menjadi salah satu pendiri Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Melalui KUPI, ia memperjuangkan tafsir keagamaan yang adil dan berpihak pada perempuan, anak, serta lingkungan hidup. Dalam forum KUPI pertama di Cirebon tahun 2017, ia berdiri di antara ratusan ulama perempuan dari seluruh Indonesia, menyuarakan keyakinan bahwa keulamaan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kedalaman ilmu dan ketulusan niat. “Menjadi ulama bukan soal jenis kelamin,” katanya lantang, “ulama adalah mereka yang ilmunya membawa rahmah bagi semesta”.
Dari forum itulah suara perempuan pesantren bergema ke penjuru negeri, dan nama Nyai Badriyah menjadi salah satu penanda kebangkitan ulama perempuan di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bisa menjadi murid dalam ruang agama, tetapi juga penafsir dan penjaga nilai-nilainya.
Selain menjadi penggerak organisasi, Nyai Badriyah juga dikenal sebagai pemikir yang memperkaya khazanah Fiqh Perempuan. Ia sering mengajak umat untuk membaca ulang teks-teks agama dengan pandangan yang adil dan manusiawi. Menurutnya, fiqh tidak boleh kering dari kasih. “Islam tidak pernah menindas perempuan,” ujarnya, “yang menindas adalah cara sebagian manusia memahami Islam.” Dalam setiap ceramahnya, ia kerap mengangkat kisah Siti Hajar, yaitu seorang perempuan yang berlari di padang tandus demi kehidupan anaknya. Baginya, kisah itu adalah simbol perempuan yang kuat, beriman, dan penyelamat kehidupan. “Siti Hajar adalah lambang kasih yang mengalir tanpa pamrih. Dari langkahnya, lahir air zamzam yang merupakan sumber kehidupan yang tak pernah berhenti. Itulah kekuatan perempuan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Selain mengajar, Nyai Badriyah juga produktif menulis. Tulisannya tersebar di berbagai media nasional dan jurnal keislaman. Ia menulis tentang tafsir sosial, spiritualitas, dan kemanusiaan. Bahasa tulisannya lembut, penuh perenungan, dan mengandung kekuatan moral yang menenangkan. “Jika agama tidak membuat kita lebih lembut,” tulisnya suatu kali, “mungkin yang kita pelajari baru kulitnya saja”.
Para santrinya memanggilnya dengan penuh hormat — Nyai, guru, sekaligus ibu. Ia mendengarkan dengan sabar setiap cerita, mengingatkan dengan senyum, dan menegur tanpa melukai. Di matanya, setiap santri adalah amanah, setiap manusia adalah ayat Tuhan yang perlu dibaca dengan hati.
Kini, di usia yang matang, Nyai Hj. Badriyah Fayumi tetap berjalan tenang di jalannya. Dari pesantrennya di Bekasi, ia menebar ilmu dan kasih, membimbing generasi baru ulama perempuan, dan menjadi rujukan bagi banyak kalangan dari majelis taklim hingga forum internasional. Jejaknya melampaui ruang fisik pesantren, ia telah menjadi simbol rahmah dalam gerakan Islam Nusantara yang ramah dan berpihak pada kehidupan.
Dalam setiap tutur dan langkahnya, Nyai Badriyah mengingatkan bahwa kekuatan seorang ulama tidak terletak pada seberapa keras suaranya, tetapi seberapa dalam kasihnya kepada manusia. Islam yang ia ajarkan bukan agama yang menakut-nakuti, melainkan yang menenangkan; bukan yang membatasi, melainkan yang memerdekakan. “Rahmah itu bukan kelemahan,” katanya suatu sore di Mahasina, sambil memandang para santri yang sedang mengaji. “Rahmah adalah kekuatan. Dan dari pesantren, rahmah itu bisa menyembuhkan dunia”.
Penulis

Inda Hudiria menempuh pendidikan S1 dan S2 di Universitas Bengkulu dengan konsentrasi Pendidikan Matematika. Sejak masa studi, Inda aktif mengembangkan diri di bidang akademik, riset, serta kegiatan kepemudaan, khususnya yang berfokus pada pendidikan, kepemimpinan, dan kewirausahaan.
Pengalaman profesionalnya cukup luas, di antaranya sebagai tentor di Primagama Lubuklinggau, guru di SMPIT Mutiara Cendekia dan SMK Negeri 7 Bengkulu, hingga dosen di STIESNU Bengkulu. Ia juga pernah menjadi asisten dosen di Universitas Bengkulu, pendamping lokal desa di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, serta anggota tim tracer study di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Selain mengajar, Inda aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah di bidang pendidikan matematika, baik di jurnal nasional maupun internasional. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, serta program pertukaran budaya internasional.
Sebagai pengurus Yayasan Srimanganti Nusantara, Inda berkomitmen untuk memperkuat fondasi pendidikan berbasis pesantren dengan pendekatan riset dan kepemimpinan. Ia percaya bahwa pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi muda yang kritis, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.